Saturday, November 2, 2013

Dari Hobi Mendaki Gunung Kutemukan Saudara Baru


Dan jejak mereka tertinggal di gunung-gunung yang mereka singgahi
Jejak penuh kebahagian, keberanian, dan suka cita

Ditelan hiruk pikuknya Jakarta, dijejali asap tak bertanggung jawab kota, dan sombongnya bintang-bintang di malam hari di kota ini. Diam dan kurangnya kreatifitas tidak akan mampu menandingi dinamisnya hidup di zaman ini, di kota ini. Di sebuah ibu kota yang sudah terkenal dengan kesemrawutannya ini saya menemukan keluarga baru, keluarga yang sungguh dinamis dan unik, keluarga tempat saya meluangkan waktu untuk sekedar bertukar pikiran, belajar, dan melarikan diri dari kenyataan pikiran-pikiran jenuh yang kadang saya alami. Di sudut kota Jakarta, di sebuah rumah sederhana tapi kaya cinta. Dinahkodain oleh seorang pria pemberani yang beristrikan wanita modern jaman sekarang dan dikarunia peri kecil yang sungguh cantik dan pintar, Maha Besar Tuhan yang sudah menyatukan mereka.

Saya tidak ingat persisnya kapan mengenal mereka, yang jelas hobilah yang mempertemukan saya dan mereka. Kami memiliki hobi yang sama, yaitu mendaki gunung. Jangan tanyakan kami kenapa mempunyai hobi ini, karena tak akan bisa dijawab oleh deretan logika dan terlebih lagi saya bosan untuk menjelaskannya. Biarlah hobi ini yang mempertemukan saya dan saudara-saudara baru saya. 

Ary Darmawan, Hermin Setyocahyani, Naquita Darmawan
Saya enggan bertanya kenapa mereka naik gunung, tapi mungkin secara tidak langsung seiring dengan aktifnya lagi organisasi pecinta alam di salah satu sekolah menengah negeri di Jakarta yang kebetulan juga dekat dengan kostan saya di Jakarta, tempat dimana saya juga menemukan saudara-saudara baru. Dua tahun lalu kira-kira mereka mulai naik gunung bersama termasuk si kecil Naquita yang waktu itu masih berumur 4 tahun. Dimualai dengan mencicipi puncak gunung Gede, di Jawa Barat. Saya hanya menebak waktu itu bahwa bakal ada pendakian-pendakian selanjutnya. Ternyata tebakan saya benar, seandainya itu tebakan lotre pasti saya sudah menang banyak hehe.

Sambil menggelengkan kepala saya menulis tulisan ini, hampir tidak percaya sekaligus kagum atas apa yang mereka lakukan setelah kunjungan mereka ke gunung Gede. "Looo gila mas, looo gilaa mbak" kata-kata itu mungkin cukup mewakili kegilaan-kegilaan mereka selanjutnya. Gila luuu ndro, elu kali yang gila kas, iya si ndro tapi ada yang lebih gila dari gw ndro, siapa kas? itu orangnya di atas. Ada juga yang lebih gila dari lu ya kas, emangnye doi ngapain kas?. Pokoknye dengerin aje cerita gw deh kas.

Saya tidak pernah dekat keluarga seperti mereka sebelumnya yang suka naik gunung bareng, that's why it makes me interest to tell a story about them, a special family indeed!

Setelah pendakian ke Gede itu pula saya semakin dekat dengan mereka. Yang kita obrolin gak jauh-jauh dari peralatan gunung, waktu itu peralatan mendaki mereka belum terlalu komplit. Waaah kesempatan buat ngeracunin seketika itu keluar, berbekal sedikit pengetahuan dan kenalan beberapa rekan penjual peralatan gunung, berhasilah saya meracuni sedikit demi sedikit hahaha. Sambil menyelam minum air, sambil ngeracunin ya saya ambil untung juga jadi penghubung Mas Ary ke penjual, lumayan dapat tambahan buat beli rokok dah, haha piss maaas.

2012 nanjak bareng
Akhirnya kesampean juga ngrasain naik gunung bareng mereka. Bulan Juni 2012 direncanakan ke Semeru, yoih Semeru beroo. Kegilaan pertama sebelum keberangkatanpun terjadi, duhh ngomongin gila lagi dah. Tapi gapapa, buat saya ini emang gila. Lah emang kenapa kas kok gila?bentarr ndro ane belom selesai ngomong juga, plaaaak!!
Ceritanya janjian ni malem sebelum berangkat packing barang yang mau dibawa di rumah Mas Ary. Lah packing doank dibilang gila lu kas, biasa aja kali.....bentar ndro ane belom selesai ngomong, sekali lo nyela gw injek juga lo punya biji. 
Jadi barang yang mesti dibawa, terdiri dari 5 kardus gedhe yang isinya makanan semua, faaaak mimpi apa ini, gimana masukin ke keril, gimana rasanya di pundak. Setengah shock, seperempat kaget, tigaperempat lemes, akhirnya ane cuma bersandar di tembok, terharu, sambil mukul-mukul tu tembok (sumpah yang terakhir ini lebay dan fiktif). Baru sekali ini lihat logistik sebanyak itu buat di gunung. Oke berpikir santai kaya dipantai, selow kaya di pulau aiih sedap, tetep aja kepikiran gimana rasanya pundak dari ranupane sampe kalimati, antar kota antar propinsi dah pokoknya. Luuuu kira bus AKAP. Bebas, tulisan- tulisan sendiri ngapa luu protes sih brot, keyboard (nyambungnya dimanaaa damar).
Kembali ke topik daah. Akhirnya menyadari saya nggak sendirian, You'll Never Walk Alone, faak malah bawa tim musuh segala. Jadi, barang-barang logistik itu akhirnya diangkut anggota rombongan yang lain, yaitu 7 pangeran tampan nan rupawan yang menjelma jadi porter. Okesip gak sendiriaaan bero, teriak-teriak kegirangan, salto-salto depan belakang, kayaaaang!!!huraaay
Berangkaaaats....akhirnya hari keberangkatanpun tiba, rombongan naik mobil dari Jakarta sampai Malang dan saya sendiri naik burung besi ke surabaya lanjut ketemuan di Tumpang dan dua hari kemudia mulai start dari ranupani menuju ranukumbolo.
how cute that little girl with her pinky legging 
Kegilaan kedua berlanjut, ranukumbolo malem itu dinginya kaya di freezer beroo, aseli dingin banget sampe nusuk ke rahim coba dinginnya. "Lah emang lu punya rahim kas, oh iye maksud gw tulang ndro, rahim sama tulang kan jauuuh banget, ow iya, maklum dingiin ndro, lah lo ngetik kan lagi gak diranukumbolo kas, oh iya ya tapi gw lagi di Manchester sih, iyain aja dah... Glory Glory Manchester United!!!
Di tengah dinginnya ranukumbolo, ada suara yang bikin pecah heningnya ranukumbolo, si kecil nangis menjerit-jerit, Baru kali ini denger suara anak kecil nangis di gunung, kenceng lagi ngalahin sirine ISILOP. Ternyata si kecil nangis karena kedinginan. Setelah pakai sleeping bag punya anggota lain, yaitu si Iqbal akhirnya tak berapa lama si kecilpun mereda tangisannya kemudian lelap dalam tidurnya. Sambil ngetik bayangin Iqbal tidur tanpa sleeping bag jadi ngakak, buahahaha how pity you were. Tapi gapapa itu namanya kesetiakawinan bero. "kesetiakawanan kali kaaaas, bebas, ini negara democrazy ndroo, serah gw donk"

Hari kedua lanjut kalimati, gaaaaspol
Di hari kedua si kecil sudah gak rewel lagi, Alhamdulillah ketemu formulanya juga biar si kecil anteng, termasuk si kecil satunya. Gimana mau gak anteng, mengkeruuut sih iya. Debat dimulai, mengingat kondisi si kecil dan tim lain yg masih capek akhirnya rencana summit malam ini gagal total, dilanjutkan besok dari arcopodo. Pikiran saya melayang ke absen di kantor, duuuh 300rebu bakal kepotong lagi, mewek. Kalau jadwal molor berarti harus bolos sehari juga, iya kalau sehari, tapi kalaaaau...ah sudah lah yang penting tidur, besok masih harus ke arcopodo bawa beban.

Hari ketiga lanjut arcopodo, gaaaas lagi dah
Arcopodo

Kira-kira jam 14.00 lewat WIBMM Waktu Indonesia Bagian Molor Mulu jalan dari kalimati menuju arcopodo. Jam 17.00 lewat satu persatu sampai di arcopodo. Diriin tenda dan masak lanjuut tidur ngisi tenaga buat summit. Mencoba tidur tapi susah dan lagi-lagi si kecil menangis jejeritan setiap setengah jam sekali, gak tau berhentinya kapan akhirnya saya tidur beneran dan bangun jam 00.00 untuk siap-siap summit. Selesai masak, makan (spageti) sebenernya saya ndak doyan sama sekali sama spageti, tapi apa boleh buat tanpa mau menyinggung tim lain akhirnya makan juga hikks, akhirnya berangkat juga menuju mahameru. Seperempat perjalanan ke atas akhirnya Mas Ary menggendong si kecil Naquita dengan gendongan jawa, sedangkan saya sudah sendirian di depan. Sempat dilakukan estafet menggendong si kecil tapi pada akhirnya pada kewalahan, karena memang medan berpasir yang sangat menanjak akhirnya Mas Ary memutuskan membawa si kecil ke bawah dan tidak melanjutkan perjalanan ke atas. Puncakkk bukan segalanya.
Dari semua tim, cuma saya yang muncak, karena memang belum pernah. Tim yang lain cuma sampai cemoro tunggal (cemoronya sudah tumbang sih).
Betapa gigihnya Mas Ary yang pengen membawa si kecil ke atas, tapi betapa bertanggung jawabnya ketika menyadari kalau naik kepuncak waktu itu, dan kondisi seperti itu tidak bisa dipaksakan lagi. Good work maaas, someday you will reach the top!!
Akhirnya saya turun dari puncak sementara yang lainnya menunggu saya di kelik. Usut punya usut ternyata pada desperate muncak karena salah satu tim ada yang nyangkut ke sisi kiri jalur, siapa lagi kalau bukan Raihan van Hantu ahahah. Temen yang satu ini memang rajanya nyangkut deh. Sampai camp arcopodo, masak, tiduran bentar lanjut ranukumbolo lagi.

Hari ke empat, balik ranukumbolo, gaaaaass 
es di ranukumbolo
Waktu itu suhu ranukumbolo tidak kalah dinginnya dengan hari pertama, mak nyess. Alhamdulillah si kecil tidak rewel lagi dan si Iqbal tetep masih kedinginan lagi hahaha. Hari kelima bangun pagi rencananya mau lihat sunrise tapi rasanya badan tidak mau dikeluarkan dari sleeping bag, dingin banget. Kapan lagi kan kesini kalo cuma ngumpet di dalem sleeping bag doank kan ya, akhirnya keluar juga dr tenda dan mendapati bunga-bunga es menempel di tenda. Panteeees dinginya kebangetan, berasa jadi ikan yang lagi diawetin biar tetap seger di tumpukan es, lah kita dikata ikan, seger iya, mengkeruut lebih tepat.

Hari kelima perjalanan turun dari ranukumbolo menuju ranupani. Saya memutuskan balik ke Malang duluan untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Surabaya buat ngejar pesawat keesokan harinya sementara yang lainnya memutuskan menginap semalam lagi di Ranupani.

Hikmah dari packingan yang bikin shock tadi adalah, kebanyakan logistiknya susu Ult*a cair buat Naquita, ternyata saya juga yang ikut bantuin ngabisinnya hahaha, gak kekurangan gizi dah di gunung.

Tidak putus di semeru, 2 bulan kemudian meraka melakukan perjalanan ke gunung Rinjani, yan terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebenarnya saya juga pergi kesana tapi karena ada suatu hal tidak bisa bebarengan dengan Naqita family dan keberangkatannya pun selang satu hari. Tidak banyak yang saya saksikan langsung tentang mereka waktu itu, tetapi mendengar keluarga tersebut selamat dan sehat sampai kebawah lagi rasanya juga sudah cukup senang. Lebih senang lagi sebenarnya kalau waktu itu kita bisa nanjak bareng ya Naquita hehe. Tahun 2012 pun akhirnya ditutup dengan mengunjungi gunung Lawu.
Lawu meen

2013 makiin menggila
Di tahun ini praktis aktifitas saya di gunung sama sekali bisa dikatakan enol karena alasan kesehatan yang membuat saya mudah drop. Berbanding terbalik dengan Naquita yang jalan-jalan terus ke gunung, kali ini lebih-lebih dari tahun sebelumnya. Sampai dengan blog ini saya tulis, lengkap sudah 5 gunung yang didaki, mulai dari papandayan, merapi, merbabu, kerinci, dan terakhir argopuro. Eiiits iya, bulan November ini juga sudah direncanakan berkunjung kembali ke rinjani, hahaha gila loo maaaas gilaaa. Yang paling bikin seneng yaitu, sekarang Naquita sudah gak sering rewel lagi di gunung. "Yaiiiya lah kaaas tu gunung lama-lama kaya halaman belakang rumahnya aja kali, nah itu tau ndro". 

Dari pertama kali kenal sampai sekarang, tidak ada yang beruba sama sekali dari keluarga itu. Tetap humble, tetap besar hati, dan yang pasti tetap dinamis. Semoga Tuhan YME selalu melindungi kalian dan selalu meberikan yang terbaik kedepannya.

Terimakasih buat Mas Ary dan keluarga sudah sering saya repotin, sering numpang makan, apalagi tidur di rumah, yang sering buat tempat curhat-curhatan. If there's a place like my 2nd home, it is there. Pesen saya sih tetep jaga kesehatan buat kalian bertiga supaya bisa terus jalan-jalan menikmati Indonesia. I love you


Kerinci
Merapi
Papandayan
Merbabu


Friday, August 2, 2013

Tidak Bisa Download Dari Google Play Pakai Kartu 3 ?

Hallo sobat pengguna android, kali ini saya mau share masalah yang kerap terjadi bagi para pemakai gadget android dengan memakai layanan internet dari kartu 3. Kadang kita tidak tidak bisa mendownload aplikasi dari play store dengan menggunakan layanan internet dari 3 ini. Berikut ini tips sederhana bagi yang mempunyai masalah tersebut diatas :
  1. Buka menu setting
  2. Masuk menu wireless & network
  3. Masuk ke mobile network
  4. Masuk Access Point Names
  5. Pilih 3-WAP
  6. Lihat menu proxy yang ada disana, kemudian hilangkan angka proxy yang ada disana, kemudian kembali lagi di menu utama, selesai
Simpel bukan ?

Bagi yang menu mobile datanya tidak kelihatan setelah dihilangkan proxynya, silakan restart gadget kalian maka akan muncul lagi seperti semula


Selamat mencoba

Wednesday, July 31, 2013

Review Kompor Lapangan BULIN BL 100 B5




Seiring dengan maraknya aktifitas di bidang kegiatan alam terbuka, tak disangkal peralatan yang lengkap dan maksimal sangat membantu kelancaran dan kenyamanan kegiatan satu ini tak terkecuali peralatan memasak di lapangan. Kali ini penulis akan mencoba mereview kompor lapangan Bulin BL 100 B5

Kelebihan dari kompor ini :
  1. Tergolong kompor yang ringan (153 gram)
  2. Mempunyai pre heat pipe yang berfungsi agar gas tidak menggumpal dalam kondisi dingin sehingga nyala api bisa stabil
  3. Simmering / pengaturan nyala api bisa diatur sangat kecil, sehingga memudahkan memasak makanan yang membutuhkan api yang kecil misalnya memasak nasi
  4. Harga relatif terjangkau, sekitar Rp 230.000,00 
Kekurangan :
  1. Kaki-kaki kurang stabil
  2. Dibutuhkan adapter untuk bisa disambungkan ke tabung gas macam hi cook yang banyak beredar di Indonesia
 Penulis sempat memvideokan kompor ini dengan mencoba mendidihkan 750ml air
Alat yang dipersiapkan :

  1. Cookset alumunium
  2. Kompor BL 100 B5
  3. Air 750ml
  4. Korek api

Hasilnya, dalam suhu ruangan sekitar 25' C , kompor ini bisa mendidihkan air sebanyak 750ml selama 3.43'

Bagi teman-teman yang masih bingung mencari kompor lapangan, kompor merk bulin khususnya seri BL 100 B5 cukup saya rekomendasikan

Sekian dari penulis, semoga bermanfaat

Salam Lestari

Thursday, July 25, 2013

Booking Online untuk Mendaki Semeru Sudah Diresmikan

Demi menciptakan kenyamanan pelayanan para pendaki, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( BBTN BTS ) kini menyediakan layanan pendaftaran pendakian ke Gunung Semeru secara online.

Menurut Juru Bicara Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTN BTS), Nova Elina, Rabu 24 Juli 2013, para pendaki sudah bisa mendaftar melalui situs Bromo Tengger Semeru

"Uji cobanya sudah tiga bulan lalu, saat akan diterapkan secara serius dan sudah berjalan," kata Nova Elina.

Tujuan dibukanya pendaftaran secara online, ialah demi memberikan kemudahan bagi pendaki yang berasal dari luar Jawa. "Karena, pendaki hanya cukup mengisi biodata meliputi nama, alamat, rombongan terdiri dari minimal tiga orang dan maksimal 10 orang," katanya.

Setelah mendaftar, para pendaki akan mendapatkan kode booking untuk ke pos pendakian Ranupani Lumajang. Di Ranupani, pendaki membayar kontribusi, karcis masuk masuk kawasan taman nasional dan pendakian Gunung Semeru.

"Setiap pendaki membayar retribusi Rp 4.500 dan asuransi sebesar Rp 2.500," katanya.

Menjelang upacara bendera kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus mendatang, di puncak Gunung Semeru, pihak BBTN BTS membatasi maksimal 600 pendaki di Puncak Semeru nantinya. "Namun, upacara juga akan diselenggarakan di Kali Mati, Ranu Gumbolo, dan Ranu Pani," katanya.  src

Sumber :

http://www.bromotenggersemeru.com/

Ultralight Hiking

Ultralight Hiking, secara garis besar dapat dijabarkan dengan kegiatan hiking yang menggunakan peralatan dan perlengkapan yang ringan dan praktis.

Apa tujuan utama seorang hiker menggunakan peralatan serba UL (ultralight) :

1. Jelas, mereka menginginkan barang bawaan mereka menjadi lebih ringan dalam setiap kegiatan mereka di alam terbuka.

2. Praktis, barang-barang tersebut diciptakan atau dibuat dengan salah satu tujuan utamanya yaitu guna membuat si pemakai merasa praktis untuk menggunakannya dan mengemasnya.

3. Dari kedua penjelasan di atas tentu saja ada hasil utama yang ingin dicapai oleh para UL hikers, yaitu efesiensi tenaga dan waktu menempuh perjalanan. Dengan beban yang berat otomatis membutuhkan tenaga yang lebih untuk membawanya dan sebaliknya, dengan beban yang ringan akan semakin sedikit pula energi yang terpakai untuk membawanya.

Lalu, apakah dengan beban yang ringan tersebut faktor keselamatan dan keamanan dari perlengkapan itu sendiri dilupakan?tidak. Dengan semakin majunya teknologi, tentu saja para produsen tidak akan asal-asalan membuat produknya untuk dijual dengan mengabaikan faktor keselamatan para pembelinya. Perlengkapan UH sendiri sebenarnya sama fungsinya dengan perlengkapan konvensional sebelumnya, hanya saja mereka para produsen mereduksi berat dan efisiensi daripada produk yang mereka buat tanpa menghilangkan fungsi dan keselamatan para penggunanya.

Ingin menjadi ultralight hiker?pahami terlebih dahulu konsepnya, baru gunakan peralatanya untuk menemani kegiatan alam terbuka kita. Jangan pula melakukan kegiatan bodoh dengan menggunakan peralatan seadanya dan tidak lengkap dengan tujuan untuk memperingan beban bawaan kita, misalnya :

1. Jas hujan / rainwear, misal cuaca sedang cerah dan kita berencana melakukan pendakian gunung tapi kita tinggalkan begitu saja agar beban di ransel tidak terlalu berat. Ingat, cuaca di gunung susah untuk ditebak.

2. Ransel / carrier / keril. Kita berada dalam negara tropis dan sama-sama kita ketahui bahwa hutan di wilayah beriklim tropis cenderung lebat. Jangan menggunakan ransel yang terlalu tipis.

3. Tidak membawa tenda atau hanya menggunakan sebuah flysheet atau ponco. Kalau saya pribadi dan mungkin kebanyakan orang, kita melakukan kegiatan apapun pasti ingin mendapatkan rasa nyaman termasuk kegiatan yang satu ini yaitu mendaki gunung. Apa yang terjadi jika kita hanya menggunakan ponco atau flysheet sedangkan cuaca mendadak tidak bersahabat. Kita tentu saja tidak ingin tidur dalam kondisi basah, tidur dalam kondisi kedinginan, lalu apa yang bisa kita nikmati?selain nyawa juga yang menjadi taruhannya.

Oleh karena itu, jika kita ingin mencoba memakai peralatan mendaki yang ringan pelajari dahulu konsepnya dan peralatan yang ingin kita beli. Berikut ini tips dari penulis tentang peralatan yang mungkin bisa dijadikan gambaran untuk memulai menjadi Ultralight hiker

1. Brand/merk, menurut saya sendiri menilik dari pengalaman, belilah peralatan UL dari sebuah merk dagang yang sudah terkenal dan kompeten di dunia dalam menyediakan berbagai peralatan yang menunjang para pelaku kegiatan alam terbuka, khususnya UH. Meskipun lebih mahal tapi saya rasa sesuai dengan apa yang didapatkannya

2. Karena kita hidup di negara tropis yang mempunyai kelembaban yang tinggi, ada baiknya kita membeli tenda dobel layer untuk mengurangi kondensasi yang disebabkan perbedaan suhu di dalam dan di luar tenda. Referensi merk sendiri untuk kategori ini penulis memberikan beberapa gambaran karena pernah mempunyai beberapa yaitu, mountain hardwear twinarch, nemo losi, eiger lightness, big agnes copper spul, dan vaude hogan.

3. Sebelum melakukan kegiatan ini, terlebih dahulu kenali medan tujuan perjalanan anda sehingga peralatan yang kita bawa bisa diperkirajan terlebih dahulu.

Sekian dari penulis, semoga bermanfaat

Thursday, June 27, 2013

Perlengkapan Mendaki Mewah Hanyalah Bonus


Mewah berarti merk terkenal, mewah berarti mahal. Ya itu hipotesa saya terhadap suatu benda yang disebut mewah, tergantung juga dari sudut pandang siapa yang menilainya.
   
Barang mewah memang hampir mencakup semua benda baik itu hidup ataupun tidak hidup dlihat dari nilai ekonomis dan kadang nilai subjektifitas terhadap benda tersebut. Penilaian subjektif satu orang tentu saja berbeda dengan orang yang lain tergantung pribadi orang memprespektifkan benda tersebut, kadang tak ada acuan pasti, dan kadang-kadang terasa mengada-ada.
   
Hobi saya yang sering naik gunung tak lepas dari kata "mewah". Mewah yang saya maksud ini saya krucutkan dengan menilik perlengkapan mendaki yang menjadi bawaan mereka yang dikenakan sewaku menemani kegiatan alam terbuka mereka, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kenapa saya harus menyebutnya mewah? karena sekali lagi dilihat dari nilai ekonomis yang penulis perkirakan untuk memperoleh barang-barang tersebut.
Mari kita tilik lagi kode etik pencinta alam yang mungkin mendasari para penggiat alam bebas dalam menjalankan hobi mereka.
   
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya
3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air  
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam
6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air
   
Tidak mengherankan, sekarang hobi mendaki ini mulai menggeliat lagi. Saya tidak mau tau penyebab menggeliatnya
aktifitas ini atas efek apa, yang saya tau dan saya mau hobi ini bisa menambah saudara-saudara saya kelak.
   
Kembali ke topik mewah yang penulis angkat kali ini. Dengan semakin banyaknya para penggemar aktifitas alam terbuka ini, makin berwarna pula perlengkapan-perlengkapan yang mereka
kenakan. Saya terus terang senang sekali mengamati apa yang mereka kenakan dan kebiasaan-kebiasaan mereka selama beraktifitas. Perlengkapan mendaki merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang kelancaran dan keamanan selama melakukan aktifitas pendakian selain kesiapan fisik, orientasi, dan mental yang mereka punya. Tanpa perlengkapan cukup, saya rasa kawan-kawan pendaki akan merasa tidak percaya diri untuk melakukan perjalanan dengan aman dan
nyaman. Perlengkapan yang cukup itu seperti apa saya rasa teman-teman sudah banyak yang tahu apa sajakah itu.
   
Perlengkapan si A lebih mahal daripada si B. Kenapa perlengkapan si A lebih mahal?. Barang berharga mahal memperkuat gengsi si pemakai. Tapi apakah ini yang mendasari mereka membeli barang mahal untuk sebuah gengsi dan menyombongkannya kepada orang lain? saya rasa tidak. Apa guna
gengsimu, kesombonganmu di alam liar? TIDAK ADA. Saya yakin teman-teman memiliki barang-barang tersebut karena faktor kenyamanan yang tentu saja tidak mengesampingkan faktor keamanan. Worthless sekali kalau mereka memiliki barang bernilai ekonomis tinggi tapi dari segi kenyamanan dan keamanan tidak sesuai dengan harganya. Penulis sendiri beberapa kali berganti perlengkapan karena ingin mendapat kenyamanan dan kenikmatan selama melakukan aktifitas pendakian. Ternyata untuk mendapatkan kenyamanan dibutuhkan pula pengorbanan yang tidak sedikit. Pengorbanan dalam segi finansial tentu saja.
Lalu apa mereka yang mengenakan perlengkapan "biasa saja" tidak nyaman?. Sekali lagi, rasa nyaman bagi setiap orang berbeda-beda. Dengan perlengkapan yang biasa saja tapi sesuai dengan standard yang diperlukan untuk mendaki gunung, saya rasa banyak teman-teman pendaki yang sudah merasa aman dan nyaman. Selama mereka bisa menikmati alam, selama mereka mampu memelihara alam, selama itu pula mereka akan merasa nyaman dan percaya diri akan apa saja yang dikenakannya. Tidak ada yang membedakannya, kita semua saudara.
   
Apa gunanya peralatan mewah tapi kearifan terhadap alam murahan.
   
Untuk apa sombong dengan apa yang kita kenakan kalau hakikat dan tujuan kita sama yaitu untuk menikmati alam dan menjaganya.
   
Apa gunanya barang mewah kalau persaudaraan kita tidak terjalin hanya karena dibatasi oleh sudut pandang atas apa yang kita kenakan.
   
Karena barang yang dianggap mewah itu adalah bonus
   
      Penulis : Damar Santosa
   
      28-06-2013

Mendaki Gunung Itu Kebutuhan

Kenapa sih naik gunung?. Itulah pertanyaan teman-teman yang sering ditujukan kepada saya perihal hobi saya yang satu ini.

Saya tahu banyak tentang dunia ini lewat kakak kandung saya sendiri. Ketika kecil saya hanya suka mengkira-kira, kemana dia akan pergi, apa saja yang dia bawa dalam tas besarnya, mengapa menggunakan sepatu yang tinggi-tinggi, dan pertanyaan-pertanyaan lain dalam hati. Sampai suatu saat saya tahu lewat pamit yang dia ucapkan kepada ibu kami bahwa kakak saya akan pergi untuk naik gunung. Bayangan pertama yang mengalir dalam otak saya adalah hutan dan gunung merapi. Tidak heran memang karena saya bermukim di Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih tepatnya di daerah Kabupaten Gunungkidul. Walaupun letak ke gunung merapi tersebut sangat jauh namun ketika pergi ke rumah nenek saya di daerah Kulon Progo, gunung itu selalu mencuri pandangan saya setiap kali saya melengok ke utara dari atas bukit di dalam mobil yang sedang melaju mengantarkan kami ke kulonprogo. Bukit itu bernama hargodumilah, kalau sekarang dikenal dengan sebutan bukit bintang yang letaknya di Kecamatan Pathuk Gunungkidul.

Setelah menginjak bangku sekolah menengah keatas, saya akhirnya mengikuti organisasi siswa pecinta alam sekolah. Nama organisasi tersebut PAWANA SMA 1 Wonosari. Entah atas dasar apa sebenarnya saya mengikuti organisasi alam terbuka untuk para siswa di sekolah saya itu, tetapi menurut saya lebih karena ikut-ikut kakak saya yang dulu ikut organisasi itu juga. Kegiatan demi kegiatan alam terbuka yang sudah diagendakanpun saya ikuti, walaupun tidak semuanya saya turut serta di dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Saya punya dunia baru, dunia yang dulu saya lihat dari balik tas besar kakak saya. Waktu itu saya sudah cukup dewasa untuk menerjemahkan pertanyaan-pertnyaan masa lampau. Saya lupa persisnya kegiatan apa yang terakhir kalinya saya ikuti di sispala tersebut. Seingat saya susur goa nggremeng dan ke merapi lewat jalur kaliurang.

Setelah kuliah dan kerja di Jakarta saya hampir benar-benar lupa untuk kembali lagi menggeluti kegiatan alam terbuka seperti waktu saya SMA dulu sampai akhirnya saya punya titik balik memulai hobi saya yang akan dan mulai terlupakan.

Lagi-lagi dari kakak, saya memulai hobi ini lagi. Bukan secara sengaja tetapi perasaan itu tumbuh sendiri dalam diri. Bermula dengan mengisi waktu luang saya sebagai pegawai ber plat merah, saya ditawari kaka untuk menjual tas dan pakaian naik gunung. Tawaran itupun saya iyakan dan saya jalankan. Selang berapa waktu ditambah juga para konsumen dagangan saya yang kebanyakan para pecinta kegiatan ini juga, saya kemudian digoda oleh tawaran naik gunung oleh beberapa langganan saya.

Titik Balik Ajakan ke Gunung gede adalah yang pertama kali saya iyakan pada saat itu. Selain memang dekat dari Jakarta, tapi juga paling realistis dari ajakan-ajakan yang lain. Aaah saya telat memulai hobi ini lagi dalam hati saya sewaktu saya turun dari gunung gede dan kembali ke Jakarta.

Ternyata tidak ada kata telat dalam hidup ini yang penting ada kemauan. Setelah saya pulang dari gunung gede waktu itu saya jadi punya banyak teman dan komunitas sehobi, terutama teman-teman dari rawasari, lingkungam saya bermukim (kos). Semakin sering saya nongkrong sama teman-teman di rawasari semakin banyak pula gunung-gunung yang saya daki dari mulai gede-pangrango-sindoro-merbabu-merapi-lawu-semeru-rinjani dan gunung-gunung lainnya.

Tidak saya pungkiri hobi ini didasari ikut-ikutan dan ajakan dari orang lain sampai akhirnya saya sadar bahwa sekarang hobi naik gunung ini menjadi kebutuhan hidup saya. Kebutuan seperti apa saya sangat sulit untuk menjelaskannya. Bukan lagi untuk ajang aktualisasi diri.

Setiap setapak jalan tak berujung dan mendaki yang saya susuri terasa berat untuk dirasakan.

Ketika sampai di setiap puncak gunung maka akan berasa kecilanya kita dihadapnNya. Betapa bersyukurnya saya masih hidup. Betapa bersyukurnya saya untuk menikmati dan menjaga ciptaan maha dahsyat ini.

Saya butuh mendaki untung menghilangkan kesombongan-kesombongan saya.

Saya butuh mendaki sebagai salah satu bentuk saya bersyukur terhadap penciptaKu.

Saya butuh mendaki karena pertanyaan-pertanyaan saya kenapa mendaki gunung belum terjawab

Menulis itu Kegitan Luar Biasa

Setahun lalu kira-kira terakhir saya menulis di blog mungkin lebih atau sama sekali tidak ingat. Ya, sepertinya yang terakhir yang cocok, saya lupa terakhir kalinya menulis di blog. Bukan masalah untuk meneruskan tulisan saya terdahulu, tetapi seperti bayi yang sedang berlatih berjalan, saya mau memulai lagi perjalanan tulisan saya dari nol.

Terus, kenapa saya berhenti menulis?. Jawaban saya tidak ragu dan tidak ada yang lain karena saya selalu merasa minder terhadap tulisa-tulisan orang lain yang sangat bagus, saya juga bingung darimana mereka memperoleh kata-kata mereka, bagaimana mereka mampu memilah alur dan sudut pandang sehingga tulisannya sedap untuk dibaca. Ah kalo minder terus kapan nulisnya. Cukup waktu lama untuk akhirnya saya nulis lagi. Bukan berarti saya menulis lagi seketika itu saya lancar menuangkan huruf menjadi kata-kata dan kalimat untuk langsung enak dibaca, tetapi bagaimana saya mencoba belajar untuk lebih bagus lagi menulis. Menulis bukan kegiatan yang mudah. Mungkin ada yang mengiyakan ada pula yang beranggapan lain dengan pernyataan saya tersebut. Bagi saya sendiri menulis bukan merupkan aktifitas yang mudah disamping rasa malas, minder, apalagi tidak ada bahan sama sekali untuk ditulis. Apa gunanya menulis kalau tidak dibaca, ada juga yang menulis untuk sekedar menuangkan aspirasinya. Point yang pertama, saya beranggapan kalo saya punya motivasi menulis hanya supaya dibaca orang lain maka saya tidak akan pernah menulis dan untuk point yang kedua saya rasa lebih cocok memotivasi saya untuk menulis lagi. Ya, sekedar menuangkan ide atau aspirasi melalui tulisan saya rasa menyenagkan.

Saya selalu salut kepada semua penulis yang mampu menuangkan ide mereka melalui tulisan yang menarik untuk dibaca. Bagaimana bisa mereka mendapatkan ide-ide yang bahkan sebelumnya tidak pernah saya temukan. Hebat, itulah satu-satunya kata yang keluar dari benak saya ketika menyelesaikan tulisan orang lain yang mampu mencuri perhatian saya. Mereka pasti terus belajar, mereka pasti selalu melatih tulisannnya. Semoga saya selalu bisa belajar.

_disetiap tulisan saya belajar, bahwa menulis bukanlah kegiatan yang sia-sia_