
Dari Hobi Mendaki Gunung Kutemukan Saudara Baru
![]() |
| how cute that little girl with her pinky legging |
![]() |
| Arcopodo |
![]() |
| es di ranukumbolo |
![]() |
| Lawu meen |
![]() |
| Kerinci |
![]() |
| Merapi |
![]() |
| Papandayan |

![]() |
| how cute that little girl with her pinky legging |
![]() |
| Arcopodo |
![]() |
| es di ranukumbolo |
![]() |
| Lawu meen |
![]() |
| Kerinci |
![]() |
| Merapi |
![]() |
| Papandayan |



Demi menciptakan kenyamanan pelayanan para pendaki, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( BBTN BTS ) kini menyediakan layanan pendaftaran pendakian ke Gunung Semeru secara online.
Menurut Juru Bicara Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTN BTS), Nova Elina, Rabu 24 Juli 2013, para pendaki sudah bisa mendaftar melalui situs Bromo Tengger Semeru
"Uji cobanya sudah tiga bulan lalu, saat akan diterapkan secara serius dan sudah berjalan," kata Nova Elina.
Tujuan dibukanya pendaftaran secara online, ialah demi memberikan kemudahan bagi pendaki yang berasal dari luar Jawa. "Karena, pendaki hanya cukup mengisi biodata meliputi nama, alamat, rombongan terdiri dari minimal tiga orang dan maksimal 10 orang," katanya.
Setelah mendaftar, para pendaki akan mendapatkan kode booking untuk ke pos pendakian Ranupani Lumajang. Di Ranupani, pendaki membayar kontribusi, karcis masuk masuk kawasan taman nasional dan pendakian Gunung Semeru.
"Setiap pendaki membayar retribusi Rp 4.500 dan asuransi sebesar Rp 2.500," katanya.
Menjelang upacara bendera kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus mendatang, di puncak Gunung Semeru, pihak BBTN BTS membatasi maksimal 600 pendaki di Puncak Semeru nantinya. "Namun, upacara juga akan diselenggarakan di Kali Mati, Ranu Gumbolo, dan Ranu Pani," katanya. src
Sumber :
http://www.bromotenggersemeru.com/

Ultralight Hiking, secara garis besar dapat dijabarkan dengan kegiatan hiking yang menggunakan peralatan dan perlengkapan yang ringan dan praktis.
Apa tujuan utama seorang hiker menggunakan peralatan serba UL (ultralight) :
1. Jelas, mereka menginginkan barang bawaan mereka menjadi lebih ringan dalam setiap kegiatan mereka di alam terbuka.
2. Praktis, barang-barang tersebut diciptakan atau dibuat dengan salah satu tujuan utamanya yaitu guna membuat si pemakai merasa praktis untuk menggunakannya dan mengemasnya.
3. Dari kedua penjelasan di atas tentu saja ada hasil utama yang ingin dicapai oleh para UL hikers, yaitu efesiensi tenaga dan waktu menempuh perjalanan. Dengan beban yang berat otomatis membutuhkan tenaga yang lebih untuk membawanya dan sebaliknya, dengan beban yang ringan akan semakin sedikit pula energi yang terpakai untuk membawanya.
Lalu, apakah dengan beban yang ringan tersebut faktor keselamatan dan keamanan dari perlengkapan itu sendiri dilupakan?tidak. Dengan semakin majunya teknologi, tentu saja para produsen tidak akan asal-asalan membuat produknya untuk dijual dengan mengabaikan faktor keselamatan para pembelinya. Perlengkapan UH sendiri sebenarnya sama fungsinya dengan perlengkapan konvensional sebelumnya, hanya saja mereka para produsen mereduksi berat dan efisiensi daripada produk yang mereka buat tanpa menghilangkan fungsi dan keselamatan para penggunanya.
Ingin menjadi ultralight hiker?pahami terlebih dahulu konsepnya, baru gunakan peralatanya untuk menemani kegiatan alam terbuka kita. Jangan pula melakukan kegiatan bodoh dengan menggunakan peralatan seadanya dan tidak lengkap dengan tujuan untuk memperingan beban bawaan kita, misalnya :
1. Jas hujan / rainwear, misal cuaca sedang cerah dan kita berencana melakukan pendakian gunung tapi kita tinggalkan begitu saja agar beban di ransel tidak terlalu berat. Ingat, cuaca di gunung susah untuk ditebak.
2. Ransel / carrier / keril. Kita berada dalam negara tropis dan sama-sama kita ketahui bahwa hutan di wilayah beriklim tropis cenderung lebat. Jangan menggunakan ransel yang terlalu tipis.
3. Tidak membawa tenda atau hanya menggunakan sebuah flysheet atau ponco. Kalau saya pribadi dan mungkin kebanyakan orang, kita melakukan kegiatan apapun pasti ingin mendapatkan rasa nyaman termasuk kegiatan yang satu ini yaitu mendaki gunung. Apa yang terjadi jika kita hanya menggunakan ponco atau flysheet sedangkan cuaca mendadak tidak bersahabat. Kita tentu saja tidak ingin tidur dalam kondisi basah, tidur dalam kondisi kedinginan, lalu apa yang bisa kita nikmati?selain nyawa juga yang menjadi taruhannya.
Oleh karena itu, jika kita ingin mencoba memakai peralatan mendaki yang ringan pelajari dahulu konsepnya dan peralatan yang ingin kita beli. Berikut ini tips dari penulis tentang peralatan yang mungkin bisa dijadikan gambaran untuk memulai menjadi Ultralight hiker
1. Brand/merk, menurut saya sendiri menilik dari pengalaman, belilah peralatan UL dari sebuah merk dagang yang sudah terkenal dan kompeten di dunia dalam menyediakan berbagai peralatan yang menunjang para pelaku kegiatan alam terbuka, khususnya UH. Meskipun lebih mahal tapi saya rasa sesuai dengan apa yang didapatkannya
2. Karena kita hidup di negara tropis yang mempunyai kelembaban yang tinggi, ada baiknya kita membeli tenda dobel layer untuk mengurangi kondensasi yang disebabkan perbedaan suhu di dalam dan di luar tenda. Referensi merk sendiri untuk kategori ini penulis memberikan beberapa gambaran karena pernah mempunyai beberapa yaitu, mountain hardwear twinarch, nemo losi, eiger lightness, big agnes copper spul, dan vaude hogan.
3. Sebelum melakukan kegiatan ini, terlebih dahulu kenali medan tujuan perjalanan anda sehingga peralatan yang kita bawa bisa diperkirajan terlebih dahulu.
Sekian dari penulis, semoga bermanfaat


Kenapa sih naik gunung?. Itulah pertanyaan teman-teman yang sering ditujukan kepada saya perihal hobi saya yang satu ini.
Saya tahu banyak tentang dunia ini lewat kakak kandung saya sendiri. Ketika kecil saya hanya suka mengkira-kira, kemana dia akan pergi, apa saja yang dia bawa dalam tas besarnya, mengapa menggunakan sepatu yang tinggi-tinggi, dan pertanyaan-pertanyaan lain dalam hati. Sampai suatu saat saya tahu lewat pamit yang dia ucapkan kepada ibu kami bahwa kakak saya akan pergi untuk naik gunung. Bayangan pertama yang mengalir dalam otak saya adalah hutan dan gunung merapi. Tidak heran memang karena saya bermukim di Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih tepatnya di daerah Kabupaten Gunungkidul. Walaupun letak ke gunung merapi tersebut sangat jauh namun ketika pergi ke rumah nenek saya di daerah Kulon Progo, gunung itu selalu mencuri pandangan saya setiap kali saya melengok ke utara dari atas bukit di dalam mobil yang sedang melaju mengantarkan kami ke kulonprogo. Bukit itu bernama hargodumilah, kalau sekarang dikenal dengan sebutan bukit bintang yang letaknya di Kecamatan Pathuk Gunungkidul.
Setelah menginjak bangku sekolah menengah keatas, saya akhirnya mengikuti organisasi siswa pecinta alam sekolah. Nama organisasi tersebut PAWANA SMA 1 Wonosari. Entah atas dasar apa sebenarnya saya mengikuti organisasi alam terbuka untuk para siswa di sekolah saya itu, tetapi menurut saya lebih karena ikut-ikut kakak saya yang dulu ikut organisasi itu juga. Kegiatan demi kegiatan alam terbuka yang sudah diagendakanpun saya ikuti, walaupun tidak semuanya saya turut serta di dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Saya punya dunia baru, dunia yang dulu saya lihat dari balik tas besar kakak saya. Waktu itu saya sudah cukup dewasa untuk menerjemahkan pertanyaan-pertnyaan masa lampau. Saya lupa persisnya kegiatan apa yang terakhir kalinya saya ikuti di sispala tersebut. Seingat saya susur goa nggremeng dan ke merapi lewat jalur kaliurang.
Setelah kuliah dan kerja di Jakarta saya hampir benar-benar lupa untuk kembali lagi menggeluti kegiatan alam terbuka seperti waktu saya SMA dulu sampai akhirnya saya punya titik balik memulai hobi saya yang akan dan mulai terlupakan.
Lagi-lagi dari kakak, saya memulai hobi ini lagi. Bukan secara sengaja tetapi perasaan itu tumbuh sendiri dalam diri. Bermula dengan mengisi waktu luang saya sebagai pegawai ber plat merah, saya ditawari kaka untuk menjual tas dan pakaian naik gunung. Tawaran itupun saya iyakan dan saya jalankan. Selang berapa waktu ditambah juga para konsumen dagangan saya yang kebanyakan para pecinta kegiatan ini juga, saya kemudian digoda oleh tawaran naik gunung oleh beberapa langganan saya.
Titik Balik Ajakan ke Gunung gede adalah yang pertama kali saya iyakan pada saat itu. Selain memang dekat dari Jakarta, tapi juga paling realistis dari ajakan-ajakan yang lain. Aaah saya telat memulai hobi ini lagi dalam hati saya sewaktu saya turun dari gunung gede dan kembali ke Jakarta.
Ternyata tidak ada kata telat dalam hidup ini yang penting ada kemauan. Setelah saya pulang dari gunung gede waktu itu saya jadi punya banyak teman dan komunitas sehobi, terutama teman-teman dari rawasari, lingkungam saya bermukim (kos). Semakin sering saya nongkrong sama teman-teman di rawasari semakin banyak pula gunung-gunung yang saya daki dari mulai gede-pangrango-sindoro-merbabu-merapi-lawu-semeru-rinjani dan gunung-gunung lainnya.
Tidak saya pungkiri hobi ini didasari ikut-ikutan dan ajakan dari orang lain sampai akhirnya saya sadar bahwa sekarang hobi naik gunung ini menjadi kebutuhan hidup saya. Kebutuan seperti apa saya sangat sulit untuk menjelaskannya. Bukan lagi untuk ajang aktualisasi diri.
Setiap setapak jalan tak berujung dan mendaki yang saya susuri terasa berat untuk dirasakan.
Ketika sampai di setiap puncak gunung maka akan berasa kecilanya kita dihadapnNya. Betapa bersyukurnya saya masih hidup. Betapa bersyukurnya saya untuk menikmati dan menjaga ciptaan maha dahsyat ini.
Saya butuh mendaki untung menghilangkan kesombongan-kesombongan saya.
Saya butuh mendaki sebagai salah satu bentuk saya bersyukur terhadap penciptaKu.
Saya butuh mendaki karena pertanyaan-pertanyaan saya kenapa mendaki gunung belum terjawab

Setahun lalu kira-kira terakhir saya menulis di blog mungkin lebih atau sama sekali tidak ingat. Ya, sepertinya yang terakhir yang cocok, saya lupa terakhir kalinya menulis di blog. Bukan masalah untuk meneruskan tulisan saya terdahulu, tetapi seperti bayi yang sedang berlatih berjalan, saya mau memulai lagi perjalanan tulisan saya dari nol.
Terus, kenapa saya berhenti menulis?. Jawaban saya tidak ragu dan tidak ada yang lain karena saya selalu merasa minder terhadap tulisa-tulisan orang lain yang sangat bagus, saya juga bingung darimana mereka memperoleh kata-kata mereka, bagaimana mereka mampu memilah alur dan sudut pandang sehingga tulisannya sedap untuk dibaca. Ah kalo minder terus kapan nulisnya. Cukup waktu lama untuk akhirnya saya nulis lagi. Bukan berarti saya menulis lagi seketika itu saya lancar menuangkan huruf menjadi kata-kata dan kalimat untuk langsung enak dibaca, tetapi bagaimana saya mencoba belajar untuk lebih bagus lagi menulis. Menulis bukan kegiatan yang mudah. Mungkin ada yang mengiyakan ada pula yang beranggapan lain dengan pernyataan saya tersebut. Bagi saya sendiri menulis bukan merupkan aktifitas yang mudah disamping rasa malas, minder, apalagi tidak ada bahan sama sekali untuk ditulis. Apa gunanya menulis kalau tidak dibaca, ada juga yang menulis untuk sekedar menuangkan aspirasinya. Point yang pertama, saya beranggapan kalo saya punya motivasi menulis hanya supaya dibaca orang lain maka saya tidak akan pernah menulis dan untuk point yang kedua saya rasa lebih cocok memotivasi saya untuk menulis lagi. Ya, sekedar menuangkan ide atau aspirasi melalui tulisan saya rasa menyenagkan.
Saya selalu salut kepada semua penulis yang mampu menuangkan ide mereka melalui tulisan yang menarik untuk dibaca. Bagaimana bisa mereka mendapatkan ide-ide yang bahkan sebelumnya tidak pernah saya temukan. Hebat, itulah satu-satunya kata yang keluar dari benak saya ketika menyelesaikan tulisan orang lain yang mampu mencuri perhatian saya. Mereka pasti terus belajar, mereka pasti selalu melatih tulisannnya. Semoga saya selalu bisa belajar.
_disetiap tulisan saya belajar, bahwa menulis bukanlah kegiatan yang sia-sia_