Thursday, June 27, 2013

Mendaki Gunung Itu Kebutuhan

Kenapa sih naik gunung?. Itulah pertanyaan teman-teman yang sering ditujukan kepada saya perihal hobi saya yang satu ini.

Saya tahu banyak tentang dunia ini lewat kakak kandung saya sendiri. Ketika kecil saya hanya suka mengkira-kira, kemana dia akan pergi, apa saja yang dia bawa dalam tas besarnya, mengapa menggunakan sepatu yang tinggi-tinggi, dan pertanyaan-pertanyaan lain dalam hati. Sampai suatu saat saya tahu lewat pamit yang dia ucapkan kepada ibu kami bahwa kakak saya akan pergi untuk naik gunung. Bayangan pertama yang mengalir dalam otak saya adalah hutan dan gunung merapi. Tidak heran memang karena saya bermukim di Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih tepatnya di daerah Kabupaten Gunungkidul. Walaupun letak ke gunung merapi tersebut sangat jauh namun ketika pergi ke rumah nenek saya di daerah Kulon Progo, gunung itu selalu mencuri pandangan saya setiap kali saya melengok ke utara dari atas bukit di dalam mobil yang sedang melaju mengantarkan kami ke kulonprogo. Bukit itu bernama hargodumilah, kalau sekarang dikenal dengan sebutan bukit bintang yang letaknya di Kecamatan Pathuk Gunungkidul.

Setelah menginjak bangku sekolah menengah keatas, saya akhirnya mengikuti organisasi siswa pecinta alam sekolah. Nama organisasi tersebut PAWANA SMA 1 Wonosari. Entah atas dasar apa sebenarnya saya mengikuti organisasi alam terbuka untuk para siswa di sekolah saya itu, tetapi menurut saya lebih karena ikut-ikut kakak saya yang dulu ikut organisasi itu juga. Kegiatan demi kegiatan alam terbuka yang sudah diagendakanpun saya ikuti, walaupun tidak semuanya saya turut serta di dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Saya punya dunia baru, dunia yang dulu saya lihat dari balik tas besar kakak saya. Waktu itu saya sudah cukup dewasa untuk menerjemahkan pertanyaan-pertnyaan masa lampau. Saya lupa persisnya kegiatan apa yang terakhir kalinya saya ikuti di sispala tersebut. Seingat saya susur goa nggremeng dan ke merapi lewat jalur kaliurang.

Setelah kuliah dan kerja di Jakarta saya hampir benar-benar lupa untuk kembali lagi menggeluti kegiatan alam terbuka seperti waktu saya SMA dulu sampai akhirnya saya punya titik balik memulai hobi saya yang akan dan mulai terlupakan.

Lagi-lagi dari kakak, saya memulai hobi ini lagi. Bukan secara sengaja tetapi perasaan itu tumbuh sendiri dalam diri. Bermula dengan mengisi waktu luang saya sebagai pegawai ber plat merah, saya ditawari kaka untuk menjual tas dan pakaian naik gunung. Tawaran itupun saya iyakan dan saya jalankan. Selang berapa waktu ditambah juga para konsumen dagangan saya yang kebanyakan para pecinta kegiatan ini juga, saya kemudian digoda oleh tawaran naik gunung oleh beberapa langganan saya.

Titik Balik Ajakan ke Gunung gede adalah yang pertama kali saya iyakan pada saat itu. Selain memang dekat dari Jakarta, tapi juga paling realistis dari ajakan-ajakan yang lain. Aaah saya telat memulai hobi ini lagi dalam hati saya sewaktu saya turun dari gunung gede dan kembali ke Jakarta.

Ternyata tidak ada kata telat dalam hidup ini yang penting ada kemauan. Setelah saya pulang dari gunung gede waktu itu saya jadi punya banyak teman dan komunitas sehobi, terutama teman-teman dari rawasari, lingkungam saya bermukim (kos). Semakin sering saya nongkrong sama teman-teman di rawasari semakin banyak pula gunung-gunung yang saya daki dari mulai gede-pangrango-sindoro-merbabu-merapi-lawu-semeru-rinjani dan gunung-gunung lainnya.

Tidak saya pungkiri hobi ini didasari ikut-ikutan dan ajakan dari orang lain sampai akhirnya saya sadar bahwa sekarang hobi naik gunung ini menjadi kebutuhan hidup saya. Kebutuan seperti apa saya sangat sulit untuk menjelaskannya. Bukan lagi untuk ajang aktualisasi diri.

Setiap setapak jalan tak berujung dan mendaki yang saya susuri terasa berat untuk dirasakan.

Ketika sampai di setiap puncak gunung maka akan berasa kecilanya kita dihadapnNya. Betapa bersyukurnya saya masih hidup. Betapa bersyukurnya saya untuk menikmati dan menjaga ciptaan maha dahsyat ini.

Saya butuh mendaki untung menghilangkan kesombongan-kesombongan saya.

Saya butuh mendaki sebagai salah satu bentuk saya bersyukur terhadap penciptaKu.

Saya butuh mendaki karena pertanyaan-pertanyaan saya kenapa mendaki gunung belum terjawab

No comments:
Write comments