Thursday, June 27, 2013

Perlengkapan Mendaki Mewah Hanyalah Bonus


Mewah berarti merk terkenal, mewah berarti mahal. Ya itu hipotesa saya terhadap suatu benda yang disebut mewah, tergantung juga dari sudut pandang siapa yang menilainya.
   
Barang mewah memang hampir mencakup semua benda baik itu hidup ataupun tidak hidup dlihat dari nilai ekonomis dan kadang nilai subjektifitas terhadap benda tersebut. Penilaian subjektif satu orang tentu saja berbeda dengan orang yang lain tergantung pribadi orang memprespektifkan benda tersebut, kadang tak ada acuan pasti, dan kadang-kadang terasa mengada-ada.
   
Hobi saya yang sering naik gunung tak lepas dari kata "mewah". Mewah yang saya maksud ini saya krucutkan dengan menilik perlengkapan mendaki yang menjadi bawaan mereka yang dikenakan sewaku menemani kegiatan alam terbuka mereka, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kenapa saya harus menyebutnya mewah? karena sekali lagi dilihat dari nilai ekonomis yang penulis perkirakan untuk memperoleh barang-barang tersebut.
Mari kita tilik lagi kode etik pencinta alam yang mungkin mendasari para penggiat alam bebas dalam menjalankan hobi mereka.
   
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya
3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air  
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam
6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air
   
Tidak mengherankan, sekarang hobi mendaki ini mulai menggeliat lagi. Saya tidak mau tau penyebab menggeliatnya
aktifitas ini atas efek apa, yang saya tau dan saya mau hobi ini bisa menambah saudara-saudara saya kelak.
   
Kembali ke topik mewah yang penulis angkat kali ini. Dengan semakin banyaknya para penggemar aktifitas alam terbuka ini, makin berwarna pula perlengkapan-perlengkapan yang mereka
kenakan. Saya terus terang senang sekali mengamati apa yang mereka kenakan dan kebiasaan-kebiasaan mereka selama beraktifitas. Perlengkapan mendaki merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang kelancaran dan keamanan selama melakukan aktifitas pendakian selain kesiapan fisik, orientasi, dan mental yang mereka punya. Tanpa perlengkapan cukup, saya rasa kawan-kawan pendaki akan merasa tidak percaya diri untuk melakukan perjalanan dengan aman dan
nyaman. Perlengkapan yang cukup itu seperti apa saya rasa teman-teman sudah banyak yang tahu apa sajakah itu.
   
Perlengkapan si A lebih mahal daripada si B. Kenapa perlengkapan si A lebih mahal?. Barang berharga mahal memperkuat gengsi si pemakai. Tapi apakah ini yang mendasari mereka membeli barang mahal untuk sebuah gengsi dan menyombongkannya kepada orang lain? saya rasa tidak. Apa guna
gengsimu, kesombonganmu di alam liar? TIDAK ADA. Saya yakin teman-teman memiliki barang-barang tersebut karena faktor kenyamanan yang tentu saja tidak mengesampingkan faktor keamanan. Worthless sekali kalau mereka memiliki barang bernilai ekonomis tinggi tapi dari segi kenyamanan dan keamanan tidak sesuai dengan harganya. Penulis sendiri beberapa kali berganti perlengkapan karena ingin mendapat kenyamanan dan kenikmatan selama melakukan aktifitas pendakian. Ternyata untuk mendapatkan kenyamanan dibutuhkan pula pengorbanan yang tidak sedikit. Pengorbanan dalam segi finansial tentu saja.
Lalu apa mereka yang mengenakan perlengkapan "biasa saja" tidak nyaman?. Sekali lagi, rasa nyaman bagi setiap orang berbeda-beda. Dengan perlengkapan yang biasa saja tapi sesuai dengan standard yang diperlukan untuk mendaki gunung, saya rasa banyak teman-teman pendaki yang sudah merasa aman dan nyaman. Selama mereka bisa menikmati alam, selama mereka mampu memelihara alam, selama itu pula mereka akan merasa nyaman dan percaya diri akan apa saja yang dikenakannya. Tidak ada yang membedakannya, kita semua saudara.
   
Apa gunanya peralatan mewah tapi kearifan terhadap alam murahan.
   
Untuk apa sombong dengan apa yang kita kenakan kalau hakikat dan tujuan kita sama yaitu untuk menikmati alam dan menjaganya.
   
Apa gunanya barang mewah kalau persaudaraan kita tidak terjalin hanya karena dibatasi oleh sudut pandang atas apa yang kita kenakan.
   
Karena barang yang dianggap mewah itu adalah bonus
   
      Penulis : Damar Santosa
   
      28-06-2013

Mendaki Gunung Itu Kebutuhan

Kenapa sih naik gunung?. Itulah pertanyaan teman-teman yang sering ditujukan kepada saya perihal hobi saya yang satu ini.

Saya tahu banyak tentang dunia ini lewat kakak kandung saya sendiri. Ketika kecil saya hanya suka mengkira-kira, kemana dia akan pergi, apa saja yang dia bawa dalam tas besarnya, mengapa menggunakan sepatu yang tinggi-tinggi, dan pertanyaan-pertanyaan lain dalam hati. Sampai suatu saat saya tahu lewat pamit yang dia ucapkan kepada ibu kami bahwa kakak saya akan pergi untuk naik gunung. Bayangan pertama yang mengalir dalam otak saya adalah hutan dan gunung merapi. Tidak heran memang karena saya bermukim di Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih tepatnya di daerah Kabupaten Gunungkidul. Walaupun letak ke gunung merapi tersebut sangat jauh namun ketika pergi ke rumah nenek saya di daerah Kulon Progo, gunung itu selalu mencuri pandangan saya setiap kali saya melengok ke utara dari atas bukit di dalam mobil yang sedang melaju mengantarkan kami ke kulonprogo. Bukit itu bernama hargodumilah, kalau sekarang dikenal dengan sebutan bukit bintang yang letaknya di Kecamatan Pathuk Gunungkidul.

Setelah menginjak bangku sekolah menengah keatas, saya akhirnya mengikuti organisasi siswa pecinta alam sekolah. Nama organisasi tersebut PAWANA SMA 1 Wonosari. Entah atas dasar apa sebenarnya saya mengikuti organisasi alam terbuka untuk para siswa di sekolah saya itu, tetapi menurut saya lebih karena ikut-ikut kakak saya yang dulu ikut organisasi itu juga. Kegiatan demi kegiatan alam terbuka yang sudah diagendakanpun saya ikuti, walaupun tidak semuanya saya turut serta di dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Saya punya dunia baru, dunia yang dulu saya lihat dari balik tas besar kakak saya. Waktu itu saya sudah cukup dewasa untuk menerjemahkan pertanyaan-pertnyaan masa lampau. Saya lupa persisnya kegiatan apa yang terakhir kalinya saya ikuti di sispala tersebut. Seingat saya susur goa nggremeng dan ke merapi lewat jalur kaliurang.

Setelah kuliah dan kerja di Jakarta saya hampir benar-benar lupa untuk kembali lagi menggeluti kegiatan alam terbuka seperti waktu saya SMA dulu sampai akhirnya saya punya titik balik memulai hobi saya yang akan dan mulai terlupakan.

Lagi-lagi dari kakak, saya memulai hobi ini lagi. Bukan secara sengaja tetapi perasaan itu tumbuh sendiri dalam diri. Bermula dengan mengisi waktu luang saya sebagai pegawai ber plat merah, saya ditawari kaka untuk menjual tas dan pakaian naik gunung. Tawaran itupun saya iyakan dan saya jalankan. Selang berapa waktu ditambah juga para konsumen dagangan saya yang kebanyakan para pecinta kegiatan ini juga, saya kemudian digoda oleh tawaran naik gunung oleh beberapa langganan saya.

Titik Balik Ajakan ke Gunung gede adalah yang pertama kali saya iyakan pada saat itu. Selain memang dekat dari Jakarta, tapi juga paling realistis dari ajakan-ajakan yang lain. Aaah saya telat memulai hobi ini lagi dalam hati saya sewaktu saya turun dari gunung gede dan kembali ke Jakarta.

Ternyata tidak ada kata telat dalam hidup ini yang penting ada kemauan. Setelah saya pulang dari gunung gede waktu itu saya jadi punya banyak teman dan komunitas sehobi, terutama teman-teman dari rawasari, lingkungam saya bermukim (kos). Semakin sering saya nongkrong sama teman-teman di rawasari semakin banyak pula gunung-gunung yang saya daki dari mulai gede-pangrango-sindoro-merbabu-merapi-lawu-semeru-rinjani dan gunung-gunung lainnya.

Tidak saya pungkiri hobi ini didasari ikut-ikutan dan ajakan dari orang lain sampai akhirnya saya sadar bahwa sekarang hobi naik gunung ini menjadi kebutuhan hidup saya. Kebutuan seperti apa saya sangat sulit untuk menjelaskannya. Bukan lagi untuk ajang aktualisasi diri.

Setiap setapak jalan tak berujung dan mendaki yang saya susuri terasa berat untuk dirasakan.

Ketika sampai di setiap puncak gunung maka akan berasa kecilanya kita dihadapnNya. Betapa bersyukurnya saya masih hidup. Betapa bersyukurnya saya untuk menikmati dan menjaga ciptaan maha dahsyat ini.

Saya butuh mendaki untung menghilangkan kesombongan-kesombongan saya.

Saya butuh mendaki sebagai salah satu bentuk saya bersyukur terhadap penciptaKu.

Saya butuh mendaki karena pertanyaan-pertanyaan saya kenapa mendaki gunung belum terjawab

Menulis itu Kegitan Luar Biasa

Setahun lalu kira-kira terakhir saya menulis di blog mungkin lebih atau sama sekali tidak ingat. Ya, sepertinya yang terakhir yang cocok, saya lupa terakhir kalinya menulis di blog. Bukan masalah untuk meneruskan tulisan saya terdahulu, tetapi seperti bayi yang sedang berlatih berjalan, saya mau memulai lagi perjalanan tulisan saya dari nol.

Terus, kenapa saya berhenti menulis?. Jawaban saya tidak ragu dan tidak ada yang lain karena saya selalu merasa minder terhadap tulisa-tulisan orang lain yang sangat bagus, saya juga bingung darimana mereka memperoleh kata-kata mereka, bagaimana mereka mampu memilah alur dan sudut pandang sehingga tulisannya sedap untuk dibaca. Ah kalo minder terus kapan nulisnya. Cukup waktu lama untuk akhirnya saya nulis lagi. Bukan berarti saya menulis lagi seketika itu saya lancar menuangkan huruf menjadi kata-kata dan kalimat untuk langsung enak dibaca, tetapi bagaimana saya mencoba belajar untuk lebih bagus lagi menulis. Menulis bukan kegiatan yang mudah. Mungkin ada yang mengiyakan ada pula yang beranggapan lain dengan pernyataan saya tersebut. Bagi saya sendiri menulis bukan merupkan aktifitas yang mudah disamping rasa malas, minder, apalagi tidak ada bahan sama sekali untuk ditulis. Apa gunanya menulis kalau tidak dibaca, ada juga yang menulis untuk sekedar menuangkan aspirasinya. Point yang pertama, saya beranggapan kalo saya punya motivasi menulis hanya supaya dibaca orang lain maka saya tidak akan pernah menulis dan untuk point yang kedua saya rasa lebih cocok memotivasi saya untuk menulis lagi. Ya, sekedar menuangkan ide atau aspirasi melalui tulisan saya rasa menyenagkan.

Saya selalu salut kepada semua penulis yang mampu menuangkan ide mereka melalui tulisan yang menarik untuk dibaca. Bagaimana bisa mereka mendapatkan ide-ide yang bahkan sebelumnya tidak pernah saya temukan. Hebat, itulah satu-satunya kata yang keluar dari benak saya ketika menyelesaikan tulisan orang lain yang mampu mencuri perhatian saya. Mereka pasti terus belajar, mereka pasti selalu melatih tulisannnya. Semoga saya selalu bisa belajar.

_disetiap tulisan saya belajar, bahwa menulis bukanlah kegiatan yang sia-sia_